Hujan yang mengguyur wilayah Kabupaten Jombang dan sekitarnya menyebabkan terjadinya banjir luapan di sejumlah desa pada Senin, 2 Maret 2026. Genangan air dilaporkan menggenangi beberapa rumah warga serta akses jalan desa di beberapa titik wilayah terdampak.
Berdasarkan laporan yang diterima oleh Pusdalops BPBD Kabupaten Jombang, banjir luapan terjadi di lima desa yang tersebar di tiga kecamatan, yakni Desa Kebondalem dan Desa Tebel di Kecamatan Bareng, Desa Gondek dan Desa Selorejo di Kecamatan Mojowarno, serta Desa Kademangan di Kecamatan Mojoagung.

Peristiwa ini bermula ketika hujan mengguyur wilayah Jombang sejak sore hari. Meskipun intensitas hujan di sebagian wilayah Jombang tidak terlalu tinggi, namun terjadi peningkatan debit air pada sejumlah aliran sungai akibat kiriman air dari wilayah hulu, khususnya dari daerah Malang yang sebelumnya mengalami curah hujan cukup tinggi. Kondisi tersebut menyebabkan debit air di sejumlah saluran dan sungai meningkat hingga akhirnya meluap ke permukiman warga serta jalan desa di beberapa lokasi.
Khusus di wilayah Kecamatan Mojowarno, banjir luapan juga dipicu oleh adanya rumpun bambu yang terbawa arus air dan tersangkut di bagian tengah jembatan. Rumpun bambu tersebut menabrak bagian jembatan sehingga aliran air menjadi terhambat. Kondisi ini menyebabkan debit air tertahan dan memicu terjadinya luapan air di sekitar wilayah tersebut.
Sementara itu, di beberapa desa lainnya seperti Desa Kebondalem, Desa Tebel, dan Desa Kademangan, genangan air terjadi akibat meningkatnya debit air setelah hujan dan kiriman air dari wilayah hulu tanpa adanya hambatan aliran air seperti yang terjadi di Mojowarno.
Mengetahui kejadian tersebut, warga segera melaporkan kondisi banjir kepada Pusdalops BPBD Kabupaten Jombang. Setelah menerima laporan dari masyarakat, petugas langsung melakukan koordinasi dengan pimpinan dan segera memberangkatkan tim menuju lokasi untuk melakukan penanganan dan assessment di lapangan.
Tim Pusdalops BPBD Kabupaten Jombang kemudian melakukan kaji cepat di beberapa titik lokasi terdampak guna memastikan kondisi di lapangan serta menentukan langkah penanganan yang diperlukan. Di wilayah Mojowarno, tim melakukan upaya evakuasi terhadap rumpun bambu yang menyumbat bagian tengah jembatan agar aliran air dapat kembali lancar.
Proses pembersihan rumpun bambu tersebut dilakukan secara hati-hati agar tidak menimbulkan hambatan baru pada aliran air. Setelah hambatan berhasil diangkat dan aliran air kembali normal, debit air yang sebelumnya tertahan perlahan mulai surut.
Dalam proses penanganan kejadian ini, BPBD Kabupaten Jombang juga berkoordinasi dengan berbagai pihak, di antaranya AGISENA BPBD Provinsi Jawa Timur, perangkat desa setempat, serta masyarakat yang turut membantu memberikan informasi kondisi di lapangan.
Setelah dilakukan assessment serta penanganan di lokasi, genangan air di sejumlah wilayah terdampak berangsur-angsur surut. Saat ini kondisi di lokasi terdampak dilaporkan telah kembali normal dan aktivitas masyarakat dapat berjalan kembali seperti biasa.
BPBD Kabupaten Jombang mengimbau masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama saat terjadi hujan dalam durasi yang cukup lama maupun adanya potensi kiriman air dari wilayah hulu. Masyarakat juga diharapkan segera melaporkan kepada pihak terkait apabila menemukan potensi gangguan aliran air seperti sampah atau material yang menyumbat sungai maupun jembatan, sehingga dapat segera ditangani sebelum menimbulkan dampak yang lebih luas.
Kesiapsiagaan, koordinasi yang baik, serta peran aktif masyarakat menjadi faktor penting dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir luapan. Dengan kerja sama antara pemerintah daerah, petugas di lapangan, serta masyarakat, diharapkan penanganan bencana dapat dilakukan dengan cepat, tepat, dan meminimalkan dampak yang ditimbulkan.

-

-
