JOMBANG – Kesiapsiagaan menghadapi bencana dan kondisi darurat di lingkungan rumah sakit menjadi bagian penting dalam menjamin keselamatan pasien, tenaga kesehatan, pengunjung, maupun seluruh unsur yang berada di dalam fasilitas pelayanan kesehatan. Untuk memperkuat kesiapsiagaan tersebut, BPBD Kabupaten Jombang melalui Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan bersama Pusdalops BPBD Kabupaten Jombang melaksanakan kegiatan sosialisasi dan simulasi bencana di Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RSNU) Jombang, Jumat, 4 September 2026.
Kegiatan yang berlangsung di lingkungan RSNU Jombang, Jalan KH. Hasyim Asy'ari, Kecamatan Diwek, ini menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan pemahaman dan kemampuan seluruh unsur rumah sakit dalam menghadapi berbagai potensi keadaan darurat, khususnya yang berkaitan dengan kebakaran dan bencana.
Tidak hanya memberikan pemahaman melalui materi, kegiatan juga dilengkapi dengan simulasi sehingga peserta dapat mengenali tahapan penanganan keadaan darurat secara lebih nyata. Melalui pendekatan tersebut, diharapkan setiap personel rumah sakit memiliki kesiapan untuk bertindak secara cepat, tepat, terkoordinasi, dan tetap mengutamakan keselamatan.
Membangun Budaya Siaga di Lingkungan Rumah Sakit
Rumah sakit merupakan fasilitas pelayanan publik yang memiliki karakteristik khusus dalam menghadapi kondisi darurat. Di dalamnya terdapat pasien dengan berbagai kondisi, termasuk pasien yang membutuhkan bantuan untuk berpindah tempat, sehingga proses evakuasi tidak dapat dilakukan seperti pada bangunan umum lainnya.
Kondisi tersebut membuat kesiapsiagaan menjadi kebutuhan yang harus dipahami oleh seluruh unsur rumah sakit, bukan hanya oleh petugas keamanan atau tim tertentu.
Melalui kegiatan sosialisasi dan simulasi ini, BPBD Kabupaten Jombang mendorong terbentuknya budaya siaga di lingkungan RSNU Jombang. Setiap individu diharapkan mengetahui apa yang harus dilakukan ketika terjadi keadaan darurat, bagaimana menyampaikan informasi, bagaimana merespons sesuai peran masing-masing, serta bagaimana membantu proses evakuasi secara aman dan terkoordinasi.
Kesiapsiagaan bukan hanya tentang kemampuan memadamkan api, tetapi juga bagaimana mengenali potensi bahaya sejak awal, mengambil keputusan dengan cepat, mengomunikasikan keadaan, dan mencegah kepanikan agar tidak memperburuk situasi.
Dibuka dengan Penguatan Komitmen Bersama
Rangkaian kegiatan diawali dengan sambutan dari Direktur RSNU Jombang dan Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Jombang sekaligus pembukaan kegiatan.
Pembukaan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama antara BPBD dan pihak rumah sakit dalam membangun lingkungan pelayanan kesehatan yang lebih aman dan tangguh terhadap bencana.
Kerja sama lintas sektor menjadi sangat penting dalam penanggulangan bencana. Ketika sebuah kondisi darurat terjadi, penanganan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan komunikasi, koordinasi, pembagian tugas, serta pemahaman prosedur yang sama antara pengelola fasilitas, petugas, tenaga kesehatan, dan unsur pendukung lainnya.
Mengenal Kode Darurat di Lingkungan Rumah Sakit
Materi pertama dalam kegiatan membahas mengenai kode-kode keadaan darurat yang diterapkan di lingkungan rumah sakit, di antaranya Kode Hijau, Kode Purple, dan Kode Merah.
Pengenalan kode tersebut menjadi penting karena dalam kondisi darurat, informasi harus dapat disampaikan secara cepat dan mudah dipahami oleh seluruh petugas. Penggunaan kode darurat membantu membangun sistem komunikasi internal sehingga setiap personel dapat mengenali situasi dan merespons sesuai prosedur yang telah ditetapkan.
Pemahaman terhadap kode-kode tersebut juga menjadi bagian dari upaya membangun koordinasi. Ketika suatu kode darurat diumumkan, petugas yang memiliki peran tertentu diharapkan dapat segera mengambil tindakan sesuai tanggung jawabnya.
Dengan demikian, sistem kode bukan sekadar istilah, tetapi merupakan bagian dari mekanisme komunikasi yang mendukung respons cepat dan terkoordinasi.
Memperkuat Pengetahuan Dasar Kebakaran
Selain materi mengenai kode keadaan darurat, peserta juga mendapatkan pengetahuan dasar tentang kebakaran.
Materi ini memberikan pemahaman mengenai karakteristik kebakaran, potensi bahaya, tindakan awal ketika menemukan sumber api, serta pentingnya menentukan langkah penanganan yang tepat sesuai kondisi.
Pengetahuan dasar tersebut sangat penting karena api dapat berkembang dengan cepat apabila tidak segera dikendalikan. Di lingkungan rumah sakit, risiko yang dihadapi juga menjadi lebih kompleks karena terdapat pasien, peralatan medis, instalasi listrik, bahan-bahan tertentu, serta aktivitas pelayanan yang berlangsung setiap saat.
Karena itu, kemampuan mengenali potensi kebakaran sejak dini dan mengetahui tindakan pertama yang harus dilakukan merupakan bagian penting dari kesiapsiagaan.
Peserta juga diarahkan untuk memahami bahwa keselamatan jiwa merupakan prioritas utama. Penanganan kebakaran harus dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan dan kemampuan petugas, sehingga tidak menimbulkan risiko tambahan bagi diri sendiri maupun orang lain.
Dari Materi Berlanjut ke Simulasi
Setelah mendapatkan materi, kegiatan dilanjutkan dengan brifing simulasi.
Tahapan brifing menjadi bagian penting sebelum simulasi dilaksanakan. Peserta diberikan pemahaman mengenai skenario, pembagian peran, alur tindakan, komunikasi, serta hal-hal yang perlu diperhatikan selama simulasi berlangsung.
Dengan adanya brifing, peserta tidak hanya mengikuti simulasi secara spontan, tetapi memahami tujuan dan peran masing-masing dalam skenario keadaan darurat.
Tahap ini sekaligus menjadi kesempatan untuk menyamakan persepsi antara tim BPBD, petugas rumah sakit, dan unsur lainnya yang terlibat.
Simulasi Menguji Kesiapan dan Koordinasi
Tahapan berikutnya adalah pelaksanaan simulasi bencana.
Simulasi menjadi bagian yang sangat penting karena memberikan pengalaman praktis kepada peserta. Situasi darurat tidak cukup hanya dipahami melalui teori. Ketika terjadi kejadian sebenarnya, setiap detik dapat menjadi sangat berarti.
Melalui simulasi, peserta dapat mempraktikkan bagaimana menerima informasi keadaan darurat, menyampaikan laporan, mengaktifkan respons, menjalankan peran masing-masing, hingga mendukung proses penanganan dan evakuasi.
Kegiatan ini juga menjadi sarana untuk melihat bagaimana komunikasi dan koordinasi berjalan ketika seluruh unsur harus bergerak dalam waktu yang bersamaan.
Bagi lingkungan rumah sakit, simulasi memiliki nilai strategis karena membantu mengidentifikasi berbagai kemungkinan kendala yang mungkin muncul ketika terjadi keadaan darurat. Dari proses tersebut, rumah sakit dapat mengetahui bagian mana yang sudah berjalan dengan baik dan bagian mana yang masih membutuhkan peningkatan.
Evaluasi Menjadi Bagian Penting
Setelah simulasi selesai, kegiatan dilanjutkan dengan evaluasi dan penutupan.
Evaluasi menjadi ruang untuk melihat kembali seluruh rangkaian kegiatan. Hal-hal yang berjalan baik dapat dipertahankan, sementara kekurangan atau kendala yang ditemukan dapat menjadi bahan perbaikan.
Dengan demikian, simulasi bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi proses pembelajaran bersama untuk meningkatkan kesiapan menghadapi kejadian sebenarnya.
Evaluasi juga menjadi bagian penting dalam membangun sistem kesiapsiagaan yang berkelanjutan. Semakin sering dilakukan latihan dan evaluasi, semakin terbentuk kebiasaan bagi petugas untuk merespons kondisi darurat secara terstruktur.
Kesiapsiagaan Harus Menjadi Kebiasaan
Kegiatan sosialisasi dan simulasi di RSNU Jombang menunjukkan bahwa kesiapsiagaan bencana perlu dibangun sebelum bencana terjadi.
Tidak ada yang dapat memastikan kapan kondisi darurat akan muncul. Namun, risiko dan dampaknya dapat dikurangi dengan meningkatkan pengetahuan, memperkuat koordinasi, menyiapkan prosedur, serta melakukan latihan secara berkala.
Lingkungan rumah sakit membutuhkan kesiapsiagaan yang lebih kuat karena keselamatan pasien dan masyarakat yang berada di dalamnya sangat bergantung pada kemampuan petugas dalam mengambil tindakan ketika terjadi keadaan darurat.
Melalui kegiatan ini, BPBD Kabupaten Jombang terus mendorong penguatan kapasitas masyarakat dan institusi dalam menghadapi berbagai ancaman bencana. Kolaborasi dengan fasilitas pelayanan kesehatan seperti RSNU Jombang menjadi bagian penting dalam membangun sistem penanggulangan bencana yang lebih siap, responsif, dan berkelanjutan.
Kesiapsiagaan bukan hanya tentang bagaimana bertindak ketika bencana terjadi, tetapi juga tentang mempersiapkan diri sebelum keadaan darurat datang.
Karena ketika situasi darurat benar-benar terjadi, tidak ada waktu untuk belajar dari awal. Yang dibutuhkan adalah personel yang siap, prosedur yang dipahami, komunikasi yang berjalan, dan koordinasi yang kuat.
BPBD Kabupaten Jombang bersama seluruh mitra terus berkomitmen membangun masyarakat dan fasilitas pelayanan publik yang semakin tanggap, tangkas, dan tangguh dalam menghadapi bencana.
Tanggap, Tangkas, Tangguh.
#KitajagaALAMjagakita
#tetepsemangatanposambat
#PantangPulangSebelumPadam
#BPBDJombang
#DamkarJombang
#KesiapsiagaanBencana
#SimulasiBencana
#RSNUJombang
#PencegahanKebakaran