ALAT PELINDUNG DIRI / PERSONAL PROTECTIVE EQUIPMENT (APD /PPE)

 

Alat Pelindung Diri (APD) adalah suatu alat yang memiliki fungsi mengisolasi sebagian atau seluruh bagian tubuh untuk melindungi seseorang dari potensi bahaya di tempat kerja. APD memiliki peran penting bagi kelancaran dan berlangsungnya proses bekerja. Serta, menghindari terjadinya kecelakaan atau musibah yang dapat merugikan pihak bersangkutan.

Berdasarkan Undang-Undang RI No. 1 tahun 1970 bahwa pengurus atau pimpinan tempat kerja berkewajiban menyediakan alat pelindung diri (APD/PPE) untuk para pekerja dan para pekerja berkewajiban memakai APD/PPE dengan tepat dan benar. Tujuannya adalah untuk melindungi kesehatan pekerja tersebut dari risiko bahaya di tempat kerja.

Akibat masih rendahnya tingkat kesadaran para pekerja dan adanya perasaan tidak nyaman saat menggunakan alat pelindung diri (APD) atau penyediaan alat pelindung diri (APD) yang kurang memadai oleh pengurus tempat kerja, kecelakaan kerja atau musibah seperti kebakaran masih sering kita jumpai.

Dalam banyak kejadian, kita juga sering menemukan penggunaan alat pelindung diri (APD) yang tidak tepat atau sesuai dengan paparan bahaya yang dihadapi. Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan atau informasi tentang APD dan jenis atau kondisi bahaya yang dihadapi. Oleh sebab itu, simulasi atau pelatihan untuk para pekerja terkait masalah tersebut masih sangat diperlukan dan harus diperhatikan.

Apabila penyedian APD telah memadai dan kesadaran para pekerja atas penggunaan APD yang sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan, semakin membaik. Hal ini, akan berdampak baik pula pada perusahaan atau tempat kerja. Bahkan, tingkat kecelakaan akibat kerja dan musibah dapat dikurangi dan dihindari.

Berdasarkan jenisnya, bahaya dapat diklasifikasikan atas bahaya fisik misalnya berkaitan dengan peralatan, bahaya kimia misalnya berkaitan dengan material/bahan, bahaya biologi misalnya berkaitan dengan mahluk hidup, dan bahaya psikososial misalnya yang berkaitan dengan aspek sosial psikologis maupun organisasi kemasyarakatan.

Pengendalian risiko akan sangat bergantung pada tingkat/ derajat risiko yang ada. Pada umumnya pengendalian risiko dapat dibagi atas pengendalian engineering misalnya dengan melakukan perubahan desain sistem kerja,  pemasangan peralatan keamanan pada mesin, dan lain sebagainya, dan pengendalian administratif seperti pembuatan standar operasi prosedur (SOP), pengaturan waktu gilir kerja (shift work), rotasi, pelatihan, dan penggunaan alat pelindung diri (APD).

Pada umumnya program safety yang dilakukan di perusahaan dapat digolongkan atas dua bagian besar yaitu sistem manajemen keselamatan (safety) dan program teknis operasional. Sedangkan, definisi APD dalam HSE regulasi adalah semua peralatan yang melindungi pekerja selama bekerja termasuk pakaian yang harus di pakai pada saat bekerja, pelindung kepala (helmet), sarung tangan (gloves), pelindung mata (eye protection), pakaian yang bersifat reflektive, sepatu, pelindung pendegaran (hearing protection) dan pelindung pernapasan (masker). [HSE, 1992]

http://Referensi: http://healthsafetyprotection.com/apd-ppe/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *